Halaman

Sabtu, 14 Februari 2015

CD Misteri



Di suatu malam yang kelam , seorang anak yang bernama Wahid berjalan pulang dari masjid menuju rumah. Karena terlalu terlelap dalam mimpi yang indah, diapun tak menyangka bahwa ini sudah jam 23.45 malam. Ketika di jalan, dia melihat seorang kakek yang tampak wajahnya sangat pucak, raut wajah yang sangat sedih dan sendirian di tengah malam yang gelap gulita.
Wahid nampak takut ketika melihat tiba-tiba seorang kakek misterius berjalan di dalam gelapnya malam. Pertama, Wahid tidak ingin menyapa kakek itu. Namun, ketika mereka berdua saling berjalan berlawanan, tiba-tiba sang kakek menyapa Wahid. Dengan hati yang takut Wahid menjawab sapaan sang kakek misterius itu.
Sang kakek berkata “Nak, kakek belum makan selama 10 hari”. Ujar sang kakek.
Dengan perasaan yang sedikit heran dan takut, Wahid bertanya kepada sang kakek “Lalu apa yang dapat saya bantu”. Ujar Wahid.
Dan sang kakek berkata “ kakek mempunyai sebuah CD horror paling laris di dunia dan ini CD originalnya, dan apa kamu bersedia membelinya dengan harga Rp.150.000 ? “ Ujar sang kakek.
“Apa tidak bisa lebih murah lagi kek, mahal sekali ?” Ujar Wahid.
Sang kakek berkata “ Baiklah saya akan memberikan kamu harga special yaitu seharga Rp. 149.500. apakah kamu bersedia?”
Setelah berfikir panjang dan karena katanya kalau CD ini adalah CD horror terbaik di dunia, maka akhirnya Wahid membelinya dengan harga yang lumayan mahal untuk CD dari seorang kakek misterius.
Namun sebelum Wahid beranjak pulang, sang kakek berpesan kalau jangan pernah memutar filmnya setelah menit ke 96. Lalu Wahid bertanya “Emangnya kenapa kek?”. Namun kakek itu hanya berjalan kedepan tanpa menjawab pertanyaan Wahid. Lalu Wahid mengejar sang kakek. Namun sang kakek hilang sepeerti ditelan kabut malam yang pekat.
Wahidpun ketakutan. Wahid berlari menuju rumah dan mengunci pintu. Karene ingin lebih greget lagi, maka Wahidpun memutar film yang ada di dalam CD tadi untuk menguji nyalinya sendiri.
Setelah menonton filmnya hingga menit ke 96, Wahid pun teringat pada pesan kakek misterius tadi untuk tidak melihat video setelah menit ke 96. Tapi rasa penasaran membuat Wahid memberanikan diri untuk menonton video setelah menit ke 96. Namun ternyata setelah melihat video di menit ke 97 dan seterusnya, Wahid seperti kesurupan. Dia langsung mengambil CD itu dan menghancurkannya.
Ternyata video di menit ke 97 dan seterusnya berisi tulisan yang berkata “ Harga tertinggi Rp.8000 dan CD ini adalah bajakan dan melanggar KUHP 3774 dan pembelinya dapat sanksi 5 bulan penjara atau denda maksimal Rp.2.000.000.”

Dunia Memang Tidak Adil



Halo, aku seorang anak berumur  17 tahun yang suka sekali memakai topeng. Dengan memakai topeng ini, aku merasa lebih baik. Baiklah, aku akan menceritakan sebuah kisah hidupku secara singkat, kenapa aku memakai topeng ini.
Saat aku berumur 4 tahun, hampir setiap hari aku melihat orang tuaku bertengkar hebat. Seolah pertengkaran tersebut telah menjadi alarm pagi hari. Tapi hari ini berbeda sekali. Tidak ada suara pertengkaran. Sangat sunyi dan kalem. Aku fikir mereka sudah menemukan solusi dari permasalahan mereka.
Dengan wajah yang mengantuk sambil menguap aku mengucek mata dan keluar dari kamarku. Aku segera turun ke lantai bawah menuju ruang tamu dan ketika penglihatanku mulai fokus pada suatu objek, batinku terhentak. Rasa marah, sedih, dan bingung bercampur aduk. Aku melihat ayahku sedang tertawa gembira melihat darah yang keluar dari leher ibu. Dia melirik ke arahku. Dan berkata, “dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.”
Aku menjerit dan langsung melemparkan vas bunga disebelahku ke kepala ayah. Ketika ayah merasa pusing akibat vas bunga yang membentur kepalanya, aku berlari menuju dapur dan mengambil sebilah pisau dan langsung melemparkannya tepat di leher ayahku, seketika semua terasa gelap. Aku melihat dengan tidak fokus ke arah tetangga sebelah rumahku yang sedang mendobrak pintu, seketika aku pingsan.
Aku dibawa ke kantor polisi dan ditanyakan beberapa pertanyaan yang bahkan orang dewasa pun berat untuk menceritakan masalah pribadi keluarganya. Tapi apa boleh buat, karena kebodohan pak hakim yang menghukum anak berumur 4 tahun, dia menjatuhkan hukuman isolasi sampai umurku 17 tahun dan dianggap sudah dewasa dan mandiri.
13 tahun kemudian.
Hari ini aku telah dibebaskan dari isolasi yang penuh dengan orang yang mempunyai kasus sepertiku, yang selama ini telah mengajarkan aku betapa tidak adilnya dunia ini. Kini aku resmi dibebaskan dari tempat isolasi tersebut. Aku diberikan uang pegangan untuk bertahan hidup seadanya.
Aku ngekost di sebuah tempat kost dekat tempat aku bekerja. Aku sekolah di pagi hari dan bekerja di malam hari. Aku selalu membawa pisau kemanapun aku pergi dengan alasan keamanan.
Pada suatu malam, aku melihat seorang pengemis yang sedang dibully oleh 2 orang preman. Aku turun dari vespa kecil pengantar pizza menuju pengemis tadi. Aku ingin membela pengemis tadi, tapi aku tidak punya kekuatan apapun untuk melawan mereka selain keberanian. Dan akhirnya akulah yang kalah dalam perkelahian tersebut.
Duitku dirampas habis oleh preman bodoh itu. Dan mereka pergi begitu saja. Aku mengerang kesakitan akibat kepalaku yang mengeluarkan darah. Pengemis tadi berjalan menujuku sambil memegang parang. Dan dia berkata dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.” Dan seketika aku teringat dengan kata-kata ayahku di hari itu.
Keesokan harinya aku pergi ke sekolahku. Aku berjalan menyusuri jalan-jalan alternatif agar cepat sampainya. Di sekolah, aku selalu dibully karena aku tidak punya orang tua. Aku hanyalah sebatang kara di kota tua ini. Sering kali mereka memukulku hingga babak belur. Pernah aku mengadukan mereka ke pihak berwajib. Namun isi dompet orang tua mereka dapat menutup kasus itu dengan mudahnya. Dunia ini memang tidak adil.
Keesokan harinya, seperti biasanya aku selalu dibully. Tempat dudukku dilekatkan sebuah permen karet bekas yang menjijikkan. Hari ini aku merasa sangat marah. Aku memukul wajah anak orang kaya tersebut hingga tulang hidungnya patah. Aku merasa lega dan senang. Tapi itu hanya sebentar saja. Guru langsung memanggil orang tua anak tadi. Dan aku dibawa ke pihak berwajib.
Di kantor polisi kasus kami diproses. Secara teori, adalah naluri manusia untuk membela dirinya. Tapi uang mengatakan kalau akulah yang salah dalam kejadian ini. Dan akhirnya aku divonis masuk ke dalam jeruji besi selama sebulan. Di sana ada seorang penjaga penjara yang selalu menjadi teman curhatku. Dia tahu aku tidak bersalah. Tapi apa daya dia hanya seorang penjaga penjara.
Sebulan kemudian aku bebas dari penjara. Si penjaga perjara baik itulah yang menghantarkanku keluar. Dan kata terakhirnya sebelum kami berpisah adalah, “dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik” sambil dia menunjukkan pistol yang selalu dibawanya.
Keesokan harinya aku kembali ke sekolahku. Dan kejadian itu terulang lagi. Dia membullyku sekali lagi. Aku hanya membalas dengan tatapan hampa. Pada malam harinya aku pergi menuju rumah si bocah kaya itu. Sambil membawa sebuah parang dan pistol, aku memanjat rumahnya. Aku masuk melalui jendela kamar bocah itu yang berada di lantai dua.
Aku menutup mulutnya dan seketika dia terbangun dan hendak menjerit. “Husstttt… nanti orang tuamu bangun. Tidurlah dengan nyenyak. Dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik,” ucakpu dengan lembut. Sambil mengayunkan parang, aku sedikit tertawa. “Jrettt…” parang itu memutuskan urat nadi yang berada di tenggorokan anak itu. Aku melepaskan tanganku dari mulutnya agar aku dapat mendengarkan suara erangannya. Dan aku menulis sesuatu di dinding.
Orang tuanya terbangun karena ada keributan diatas kamar mereka. Pintu terbuka dan si ibu masuk ke dalam kamar. Dia melihat dengan mata kepalnya sendiri bahwa anaknya sudah menjadi mayat. Dari balik lemari yang gelap aku keluar dan langsung menembak kepala ibu berambut pirang tersebut. Suara tersebut terdengar oleh telinga suaminya.
Lelaki itu menyergapku dari belakang. Pistol dan parangku terjatuh. Dan kami berkelahi dengan jantan. Aku memukul wajahnya hingga hidungnya patah. Dia murka dan langsung memukulku hingga aku terpental keras ke dinding. Segala barang dia lemparkan ke arahku. Sebuah cairan asam dilemparkan ke arahku dan mengenai wajahku.
Aku meraba lantai dan menemukan parangku. Dengan membabi buta aku mengayunkan parang itu dan mengenai leher lelaki tersebut. Aku menang.
Aku langsung pulang ke rumah. Aku sadar aku telah menjadi buronan. Setelah aku mengobati luka diwajahku ini, aku kabur entah kemana. Keesokan harinya aku menonton tv di sebuah bar. Aku melihat berita satu keluarga tewas dibantai. Di dinding rumah mereka tertulis dengan tinta darah “ Dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik –Redrum-”. Ya, kurasa Redrum adalah nama yang cocok untukku. Aku membela orang yang lemah yang tidak dapat membela diri mereka sendiri. Namun caraku lebih keras. Dan kini aku menjadi seorang psikopat bertopeng yang harus menutupi wajahnya yang rusak dan jati dirinya yang sebenarnya.

Mungkin kalian tidak sadar. Ketika kalian membaca ini, aku sedang mengintai kalian. Mungkin aku berada disekitar kalian. Atau mungkin aku berada ditengah-tengah kalian. Bagi kalian yang tidak adil dan merasa hebat, aku hanya dapat berkata dunia memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.

Ogek,
25 Januari 2015