Halaman

Sabtu, 15 Oktober 2016

KEVIN KECIL


Kevin kecil terkenal nakal di lingkungannya. Setiap hari Kevin berbuat onar. Mulai dari mencuri mangga, melempar batu ke temannya sampai membunuh kucing tetangganya. Hampir setiap hari pula tetangga mengeluhkan kelakuan Kevin kecil kepada orang tuanya.
         Hari ini Kevin kecil ketahuan memukul teman sekelasnya. Kevin membenturkan kepala temannya ke dinding hingga mengeluarkan darah. Guru segera menelpon orang tua Kevin untuk datang ke sekolah. Bukannya merasa malu dan meminta maaf, Kevin malah memberontak dan tidak mengaku salah. Orang tua Kevin yang merasa malu akhirnya meminta maaf kepada guru dan keluarga teman Kevin atas kelakuan anaknya.
               
                Setelah sampai di rumah, Kevin dihajar habis habisan oleh ayahnya. Mulai dari sapu, lidi, ikat pinggang hingga rotan membentuk luka lebam disekujur tubuh Kevin. Ibunya hanya dapat menangis melihat Kevin kecil dihukum ayahnya. Kevin kecil ingin memberi tahu alasan kenapa dia berkelahi dengan temannya tetapi ayahnya tidak mau mendengarkan.

                Esok harinya Kevin kembali berbuat onar dan begitu seterusnya. Cacian dan makian terus tertuju kepada Kevin. Hampir semua orang membenci Kevin. Kevin kecil mulai mengalami depresi. Orang tua tidak mengizinkan anaknya untuk bermain bersama Kevin. Kevin kecil menangis di pinggir jalan.
Matahari bersinar terang di sore hari. Sore yang sangat indah. Ibunda Kevin menghela nafas setelah sebelumnya memarahi Kevin karena menyembunyikan sendal di mesjid. Kringgg.. kringg... suara telepon rumah berdering.

                “ Selamat siang.” Salam seorang pria dengan tegas.
                “ Ya, siang.” Jawab ibunda Kevin
                “ Kami dengan kepolisian ingin berbicara dengan keluarga Kevin.”
                “ Ya saya ibunya Kevin. Ada apa ya pak? Apa anak saya berbuat onar lagi? Bila iya, maka saya akan segera menghukumnya. Tapi tolong pak jangan tahan anak saya.” Ibunya cemas.
                “Ibu, kami bukan ingin mengabarkan tentang kelakuan anak ibu. Tapi kami ingin mengabarkan kalau Kevin sudah meninggal ditabrak kereta yang melintas.” Tegas polisi itu.
               
                Ibu Kevin langsung mengecek kamar Kevin yang berada di lantai dua rumahnya . Tidak ada Kevin di dalam kamar. Ibu Kevin yakin kalau dia baru saja menyuruh anak satu satunya untuk masuk ke dalam kamar setelah dimarahi. Jendela kamar terbuka lebar. Ibu Kevin berjalan menuju jendela dan menemukan kain yang disimpul menjadi panjang guna kabur lewat jendela.
               
                Di atas bantal ada sebuah surat. Tulisan jelek itu jelas sekali tulisan tangan Kevin.

                “Untuk ibunda tercinta. Jangan sedih ya kalau Kevin udah nggak ada lagi. Karena Kevin udah gak tahan dengan ayah dan ibu yang selalu memarahi Kevin. Kevin ingat pada saat itu ayah berkata kalau Kevin itu gak berguna. Cuma nyusahin orang tua. Dan pada saat itu Ayah menyuruh Kevin untuk tidak usah kembali lagi ke rumah.
               
Sebenarnya Kevin sayang sama ayah dan ibu. Cuma pas waktu itu, ayah nggak mau dengar alasan kenapa Kevin membenturkan kepala teman sekelas Kevin. Sebenarnya pas waktu itu Kevin cuma gak terima kalau foto ayah dan ibu diinjak sama dia. Jadi kevin kesal terus Kevin benturin kepalanya. Mungkin Kevin juga salah karena nggak bisa nahan marah.
               
Dan kejadian hari ini juga bukan kesalahan Kevin. Kevin nggak pernah tuh nyembunyiin sendal orang di mesjid. Itu kelakuan temen Kevin. Cuma semua orang nuduh Kevin karena Kevin terkenal nakal.

Sebenarnya Kevin juga nggak mau jadi anak nakal terus. Tapi karena ibu dan ayah kerja terus, jadinya aku nyari perhatian orang lain. Semenjak Kevin jadi anak nakal, banyak orang yang memperhatikan Kevin. Meskipun dicap sebagai anak nakal, setidaknya Kevin dapat perhatian.

Udah duluya bu. Tolong jangan sedih kalau Kevin udah gak ada lagi. Semoga bunda bisa ngelahirin adek baru yang lebih baik dari Kevin. Bye ibu dan ayah. Kevin sayang kalian berdua.”


Air mata tak dapat dibendung. Semenjak kepergian Kevin kecil,  ibu belajar untuk lebih menghargai pendapat dan alasan kenapa anak bertingkah aneh dan menjadi nakal. 

Kamis, 22 September 2016


AKU

Namaku Rizki Yannur Tanjung. Bisa dipanggil Rizki, Yannur, Ogek, dan panggilan panggilan akrab lainnya. Terserah kalian mau memanggil aku apa. Terima kasih kepada orang tua ku yang telah memberikan nama yang sangat bagus walau namaku bukan Bagus. 

Aku tinggal di dalam rumah yang berada di sebelah rumah tetangga. Detailnya di Jalan Tapian Nauli No.16 Teladan Barat Medan.

Lahir di Medan, pada tanggal 22 Desember 1998 bertepatan pada hari ibu di Indonesia. 

Oke, kita langsung aja ke inti artikel ini yaitu arti nama seorang "Rizki Yannur Tanjung"

"Rizki", "Rizqi", "Rizky" dalam bahasa artinya rezeki atau sesuatu yang baik yang diberikan Allah. Mungkin orang tuaku merasa diberi sesuatu yang baik atas kelahiranku. 

"Yannur" adalah sebuah singkatan. "Yan" singkatan dari nama kakekku yaitu Alm. Yannis dan "Nur" singkatan dari nama nenekku yaitu Alm. Nur Zainab. Jadi Yannis dan Nur Zainab kembali hidup dalam namaku. 

"Tanjung" adalah marga orang Batak. Aku mendapatkan marga Tanjung karena Ayahku bermarga Tanjung juga. 

So, Rizki Yannur Tanjung adalah sebuah nama yang mempunya arti berbeda beda di setiap katanya yaitu rezeki, kakek dan nenek dan sebuah marga yang tergabung dalam namaku.


DEWASA
Masa kecil saya begitu menyenangkan. Bisa tidur kapan saja saya mau, tidak gengsi bermain kelereng, berkelahi tanpa takut tindak pidana dan lain lain. Namun semua itu hanya tinggal kenangan karena umur yang semakin dewasa merenggut semuanya. Tidur kini tak lagi pulas, mandi tak basah, makan tak kenyang, banyak beban pikiran.

Masa kecilku serba kecil, kamar yang kecil, badan yang kecil, piring yang kecil, bahkan aku sering dikucilkan oleh beberapa teman yang menganggap tubuhku kecil. Tapi tak apa, masih ada ibu yang selalu ada untuk mendo’akan anaknya menjadi besar walau kenyataannya badanku masih kecil.

Tahun demi tahun terlewati dan kini aku semakin besar. Badan yang besar, porsi yang lebih besar, tanggung jawab yang semakin besar dan impian yang besar merubah hidupku.
Awalnya ku kira pendewasaan diri itu sesuatu yang tidak masuk akal. Namun setelah aku beranjak dewasa, aku sadar kalau dewasa itu menyenangkan walau tidak masuk akal.