Kevin kecil
terkenal nakal di lingkungannya. Setiap hari Kevin berbuat onar. Mulai dari
mencuri mangga, melempar batu ke temannya sampai membunuh kucing tetangganya.
Hampir setiap hari pula tetangga mengeluhkan kelakuan Kevin kecil kepada orang
tuanya.
Hari ini Kevin kecil ketahuan memukul teman
sekelasnya. Kevin membenturkan kepala temannya ke dinding hingga mengeluarkan
darah. Guru segera menelpon orang tua Kevin untuk datang ke sekolah. Bukannya
merasa malu dan meminta maaf, Kevin malah memberontak dan tidak mengaku salah.
Orang tua Kevin yang merasa malu akhirnya meminta maaf kepada guru dan keluarga
teman Kevin atas kelakuan anaknya.
Setelah sampai di rumah, Kevin dihajar habis habisan
oleh ayahnya. Mulai dari sapu, lidi, ikat pinggang hingga rotan membentuk luka
lebam disekujur tubuh Kevin. Ibunya hanya dapat menangis melihat Kevin kecil dihukum
ayahnya. Kevin kecil ingin memberi tahu alasan kenapa dia berkelahi dengan
temannya tetapi ayahnya tidak mau mendengarkan.
Esok harinya Kevin kembali berbuat onar dan begitu
seterusnya. Cacian dan makian terus tertuju kepada Kevin. Hampir semua orang
membenci Kevin. Kevin kecil mulai mengalami depresi. Orang tua tidak
mengizinkan anaknya untuk bermain bersama Kevin. Kevin kecil menangis di
pinggir jalan.
Matahari
bersinar terang di sore hari. Sore yang sangat indah. Ibunda Kevin menghela
nafas setelah sebelumnya memarahi Kevin karena menyembunyikan sendal di mesjid.
Kringgg.. kringg... suara telepon rumah berdering.
“ Selamat siang.” Salam seorang pria dengan tegas.
“ Ya, siang.” Jawab ibunda Kevin
“ Kami dengan kepolisian ingin berbicara dengan
keluarga Kevin.”
“ Ya saya ibunya Kevin. Ada apa ya pak? Apa anak saya
berbuat onar lagi? Bila iya, maka saya akan segera menghukumnya. Tapi tolong
pak jangan tahan anak saya.” Ibunya cemas.
“Ibu, kami bukan ingin mengabarkan tentang kelakuan
anak ibu. Tapi kami ingin mengabarkan kalau Kevin sudah meninggal ditabrak
kereta yang melintas.” Tegas polisi itu.
Ibu Kevin langsung mengecek kamar Kevin yang berada
di lantai dua rumahnya . Tidak ada Kevin di dalam kamar. Ibu Kevin yakin kalau
dia baru saja menyuruh anak satu satunya untuk masuk ke dalam kamar setelah
dimarahi. Jendela kamar terbuka lebar. Ibu Kevin berjalan menuju jendela dan
menemukan kain yang disimpul menjadi panjang guna kabur lewat jendela.
Di atas bantal ada sebuah surat. Tulisan jelek itu
jelas sekali tulisan tangan Kevin.
“Untuk ibunda tercinta. Jangan sedih ya kalau Kevin
udah nggak ada lagi. Karena Kevin udah gak tahan dengan ayah dan ibu yang
selalu memarahi Kevin. Kevin ingat pada saat itu ayah berkata kalau Kevin itu
gak berguna. Cuma nyusahin orang tua. Dan pada saat itu Ayah menyuruh Kevin
untuk tidak usah kembali lagi ke rumah.
Sebenarnya
Kevin sayang sama ayah dan ibu. Cuma pas waktu itu, ayah nggak mau dengar
alasan kenapa Kevin membenturkan kepala teman sekelas Kevin. Sebenarnya pas
waktu itu Kevin cuma gak terima kalau foto ayah dan ibu diinjak sama dia. Jadi
kevin kesal terus Kevin benturin kepalanya. Mungkin Kevin juga salah karena
nggak bisa nahan marah.
Dan
kejadian hari ini juga bukan kesalahan Kevin. Kevin nggak pernah tuh
nyembunyiin sendal orang di mesjid. Itu kelakuan temen Kevin. Cuma semua orang
nuduh Kevin karena Kevin terkenal nakal.
Sebenarnya
Kevin juga nggak mau jadi anak nakal terus. Tapi karena ibu dan ayah kerja
terus, jadinya aku nyari perhatian orang lain. Semenjak Kevin jadi anak nakal,
banyak orang yang memperhatikan Kevin. Meskipun dicap sebagai anak nakal,
setidaknya Kevin dapat perhatian.
Udah duluya
bu. Tolong jangan sedih kalau Kevin udah gak ada lagi. Semoga bunda bisa
ngelahirin adek baru yang lebih baik dari Kevin. Bye ibu dan ayah. Kevin sayang
kalian berdua.”
Air mata
tak dapat dibendung. Semenjak kepergian Kevin kecil, ibu belajar untuk lebih menghargai pendapat
dan alasan kenapa anak bertingkah aneh dan menjadi nakal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar