Halo, aku seorang
anak berumur 17 tahun yang suka sekali
memakai topeng. Dengan memakai topeng ini, aku merasa lebih baik. Baiklah, aku
akan menceritakan sebuah kisah hidupku secara singkat, kenapa aku memakai
topeng ini.
Saat aku berumur
4 tahun, hampir setiap hari aku melihat orang tuaku bertengkar hebat. Seolah
pertengkaran tersebut telah menjadi alarm pagi hari. Tapi hari ini berbeda
sekali. Tidak ada suara pertengkaran. Sangat sunyi dan kalem. Aku fikir mereka
sudah menemukan solusi dari permasalahan mereka.
Dengan wajah
yang mengantuk sambil menguap aku mengucek mata dan keluar dari kamarku. Aku
segera turun ke lantai bawah menuju ruang tamu dan ketika penglihatanku mulai
fokus pada suatu objek, batinku terhentak. Rasa marah, sedih, dan bingung
bercampur aduk. Aku melihat ayahku sedang tertawa gembira melihat darah yang
keluar dari leher ibu. Dia melirik ke arahku. Dan berkata, “dunia memang tidak
adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.”
Aku menjerit dan
langsung melemparkan vas bunga disebelahku ke kepala ayah. Ketika ayah merasa
pusing akibat vas bunga yang membentur kepalanya, aku berlari menuju dapur dan
mengambil sebilah pisau dan langsung melemparkannya tepat di leher ayahku, seketika
semua terasa gelap. Aku melihat dengan tidak fokus ke arah tetangga sebelah
rumahku yang sedang mendobrak pintu, seketika aku pingsan.
Aku dibawa ke
kantor polisi dan ditanyakan beberapa pertanyaan yang bahkan orang dewasa pun
berat untuk menceritakan masalah pribadi keluarganya. Tapi apa boleh buat,
karena kebodohan pak hakim yang menghukum anak berumur 4 tahun, dia menjatuhkan
hukuman isolasi sampai umurku 17 tahun dan dianggap sudah dewasa dan mandiri.
13 tahun
kemudian.
Hari ini aku
telah dibebaskan dari isolasi yang penuh dengan orang yang mempunyai kasus
sepertiku, yang selama ini telah mengajarkan aku betapa tidak adilnya dunia
ini. Kini aku resmi dibebaskan dari tempat isolasi tersebut. Aku diberikan uang
pegangan untuk bertahan hidup seadanya.
Aku ngekost di
sebuah tempat kost dekat tempat aku bekerja. Aku sekolah di pagi hari dan
bekerja di malam hari. Aku selalu membawa pisau kemanapun aku pergi dengan
alasan keamanan.
Pada suatu
malam, aku melihat seorang pengemis yang sedang dibully oleh 2 orang preman.
Aku turun dari vespa kecil pengantar pizza menuju pengemis tadi. Aku ingin
membela pengemis tadi, tapi aku tidak punya kekuatan apapun untuk melawan
mereka selain keberanian. Dan akhirnya akulah yang kalah dalam perkelahian
tersebut.
Duitku dirampas
habis oleh preman bodoh itu. Dan mereka pergi begitu saja. Aku mengerang
kesakitan akibat kepalaku yang mengeluarkan darah. Pengemis tadi berjalan
menujuku sambil memegang parang. Dan dia berkata dunia memang tidak adil dan terkadang
ini adalah solusi terbaik.” Dan seketika aku teringat dengan kata-kata ayahku
di hari itu.
Keesokan harinya
aku pergi ke sekolahku. Aku berjalan menyusuri jalan-jalan alternatif agar
cepat sampainya. Di sekolah, aku selalu dibully karena aku tidak punya orang
tua. Aku hanyalah sebatang kara di kota tua ini. Sering kali mereka memukulku
hingga babak belur. Pernah aku mengadukan mereka ke pihak berwajib. Namun isi
dompet orang tua mereka dapat menutup kasus itu dengan mudahnya. Dunia ini
memang tidak adil.
Keesokan
harinya, seperti biasanya aku selalu dibully. Tempat dudukku dilekatkan sebuah
permen karet bekas yang menjijikkan. Hari ini aku merasa sangat marah. Aku
memukul wajah anak orang kaya tersebut hingga tulang hidungnya patah. Aku
merasa lega dan senang. Tapi itu hanya sebentar saja. Guru langsung memanggil
orang tua anak tadi. Dan aku dibawa ke pihak berwajib.
Di kantor polisi
kasus kami diproses. Secara teori, adalah naluri manusia untuk membela dirinya.
Tapi uang mengatakan kalau akulah yang salah dalam kejadian ini. Dan akhirnya
aku divonis masuk ke dalam jeruji besi selama sebulan. Di sana ada seorang
penjaga penjara yang selalu menjadi teman curhatku. Dia tahu aku tidak
bersalah. Tapi apa daya dia hanya seorang penjaga penjara.
Sebulan kemudian
aku bebas dari penjara. Si penjaga perjara baik itulah yang menghantarkanku
keluar. Dan kata terakhirnya sebelum kami berpisah adalah, “dunia memang tidak
adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik” sambil dia menunjukkan pistol
yang selalu dibawanya.
Keesokan harinya
aku kembali ke sekolahku. Dan kejadian itu terulang lagi. Dia membullyku sekali
lagi. Aku hanya membalas dengan tatapan hampa. Pada malam harinya aku pergi
menuju rumah si bocah kaya itu. Sambil membawa sebuah parang dan pistol, aku
memanjat rumahnya. Aku masuk melalui jendela kamar bocah itu yang berada di
lantai dua.
Aku menutup
mulutnya dan seketika dia terbangun dan hendak menjerit. “Husstttt… nanti orang
tuamu bangun. Tidurlah dengan nyenyak. Dunia memang tidak adil dan terkadang
ini adalah solusi terbaik,” ucakpu dengan lembut. Sambil mengayunkan parang,
aku sedikit tertawa. “Jrettt…” parang itu memutuskan urat nadi yang berada di
tenggorokan anak itu. Aku melepaskan tanganku dari mulutnya agar aku dapat
mendengarkan suara erangannya. Dan aku menulis sesuatu di dinding.
Orang tuanya
terbangun karena ada keributan diatas kamar mereka. Pintu terbuka dan si ibu
masuk ke dalam kamar. Dia melihat dengan mata kepalnya sendiri bahwa anaknya sudah
menjadi mayat. Dari balik lemari yang gelap aku keluar dan langsung menembak
kepala ibu berambut pirang tersebut. Suara tersebut terdengar oleh telinga
suaminya.
Lelaki itu
menyergapku dari belakang. Pistol dan parangku terjatuh. Dan kami berkelahi
dengan jantan. Aku memukul wajahnya hingga hidungnya patah. Dia murka dan
langsung memukulku hingga aku terpental keras ke dinding. Segala barang dia
lemparkan ke arahku. Sebuah cairan asam dilemparkan ke arahku dan mengenai
wajahku.
Aku meraba lantai dan menemukan parangku. Dengan membabi buta aku
mengayunkan parang itu dan mengenai leher lelaki tersebut. Aku menang.
Aku langsung
pulang ke rumah. Aku sadar aku telah menjadi buronan. Setelah aku mengobati
luka diwajahku ini, aku kabur entah kemana. Keesokan harinya aku menonton tv di
sebuah bar. Aku melihat berita satu keluarga tewas dibantai. Di dinding rumah
mereka tertulis dengan tinta darah “ Dunia memang tidak adil dan terkadang ini
adalah solusi terbaik –Redrum-”. Ya, kurasa Redrum adalah nama yang cocok
untukku. Aku membela orang yang lemah yang tidak dapat membela diri mereka
sendiri. Namun caraku lebih keras. Dan kini aku menjadi seorang psikopat
bertopeng yang harus menutupi wajahnya yang rusak dan jati dirinya yang
sebenarnya.
Mungkin kalian
tidak sadar. Ketika kalian membaca ini, aku sedang mengintai kalian. Mungkin
aku berada disekitar kalian. Atau mungkin aku berada ditengah-tengah kalian.
Bagi kalian yang tidak adil dan merasa hebat, aku hanya dapat berkata dunia
memang tidak adil dan terkadang ini adalah solusi terbaik.
Ogek,
25 Januari 2015